Dapatkan info terbaru via Facebook. Silahkan klik LIKE / SUKA.

?

5 Ritual Pemakaman Unik di Nusantara

Sponsored

5 Ritual Pemakaman Unik di Nusantara

Dalam berbagai praktik budaya di tanah air, salahsatunya mengatur tata cara mengenai pemakaman. Dari sekian banyak suku yang ada di Nusantara, beberapa praktik pemakaman unik menjadi budaya tersendiri yang menarik untuk kita cermati. Berikut adalah lima diantaranya yang uniknya.com berhasil himpun:

1. Pemakaman Adat Toraja
Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.


Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman. Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.

2. Ngaben
Ngaben adalah upacara pembakaran jenazah atau kremasi umat Hindu di Bali, Indonesia. Acara Ngaben merupakan suatu ritual yang dilaksanakan guna mengirim jenasah kepada kehidupan mendatang. Jenasah diletakkan selayaknya sedang tidur, dan keluarga yang ditinggalkan akan senantiasa beranggapan demikian (tertidur). Tidak ada airmata, karena jenasah secara sementara waktu tidak ada dan akan menjalani reinkarnasa atau menemukan pengistirahatan terakhir di Moksha.


Puncak acara Ngaben adalah pembakaran keluruhan struktur (Lembu atau vihara yang terbuat dari kayu dan kertas), berserta dengan jenasah. Api dibutuhkan untuk membebaskan roh dari tubuh dan memudahkan reinkarnasi.

3. Trunyan
Terunyan adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Indonesia. Di daerah ini terdapat adat pemakaman yang cukup unik. Warga yang telah meninggal jenazahnya dimakamkan di atas batu besar yang memiliki cekungan 7 buah. Jenazah hanya dipagari bambu anyam secukupnya.

Uniknya setelah berhari-hari walaupun tidak dibalsem, jenazah tersebut tidak menyebarkan bau busuk.


Adat Desa Terunyan mengatur tata cara menguburkan mayat bagi warganya. Di desa ini ada tiga kuburan (sema) yang diperuntukan bagi tiga jenis kematian yang berbeda. Apabila salah seorang warga Terunyan meninggal secara wajar, mayatnya akan ditutupi kain putih, diupacarai, kemudian diletakkan tanpa dikubur di bawah pohon besar bernama Taru Menyan, di sebuah lokasi bernama Sema Wayah. Namun, apabila penyebab kematiannya tidak wajar, seperti karena kecelakaan, bunuh diri, atau dibunuh orang, mayatnya akan diletakan di lokasi yang bernama Sema Bantas. Sedangkan untuk mengubur bayi dan anak kecil, atau warga yang sudah dewasa tetapi belum menikah, akan diletakan di Sema Muda.

4. Mumifikasi Suku Asmat
Mumi adalah sebuah mayat yang diawetkan, dikarenakan perlindungan dari dekomposisi oleh cara alami atau buatan, sehingga bentuk awalnya tetap terjaga. Ini dapat dicapai dengan menaruh tubuh tersebut di tempat yang sangat kering atau sangat dingin, atau ketiadaan oksigen, atau penggunaan bahan kimiawi.


Mumi paling terkenal adalah mumi yang dibalsam dengan tujuan pengawetan tertentu, terutama dalam Mesir kuno. Di Indonesia praktik ini juga ternyata pernah diterapkan dalam kebudayaan dan sejarah Papua. Adanya praktik mumifikasi pada suku Asmat biasanya hanya dilakukan kepada kepala suku atau komandan perang yang dimumikan dengan bahan-bahan tradisional untuk memuliakan kepentingan sejarah dan religi mereka. Ada 3 mumi yang dapat kita lihat di Papua; Mumi Aikima di Aikima, Mumi Jiwika di Jiwika dan Mumi Purno di Asologaima. Ketiga mumi ini berada di Wamena.

5. Tradisi Pemakaman Adat Sumba
Bagi rakyat Sumba, ritual pemakaman merupakan salah satu acara adat yang sangat esensial. Sebelum dikuburkan, jenazah disemayamkan di rumah adat. Jenazah disemayamkan berbalut kain tenun ikat. Di depan pelataran rumah adat, terdapat seperangkat alat musik tradisional. Sebuah tambur dari kulit sapi, juga gong dengan berbagai ukuran. Para pelayat wanita dipersilakan masuk ke dalam rumah adat, sambil diiringi musik. Mereka duduk melingkar, dan menangisi mendiang. Terkadang di sela-sela tangisannya mereka juga merintih pedih. Sambil menangis, mereka juga menyelipkan pesan-pesan kepada mendiang agar menjaga keluarga mereka yang sudah lebih dulu meninggal. Setiap keluarga akan mendatangi rumah adat, dan bergantian menangisi mendiang. Setiap keluarga yang datang melayat diwajibkan membawa hewan ternak atau tenun ikat sebagai persembahan dan simbol persaudaraan.


Tambahan:

Tradisi Penguburan Suku Dayak
Tradisi penguburan dan upacara adat kematian pada suku bangsa Dayak diatur tegas dalam hukum adat. Sistem penguburan beragam sejalan dengan sejarah panjang kedatangan manusia di Kalimantan. Penguburan sekunder tidak lagi dilakukan di gua. Di hulu Sungai Bahau dan cabang-cabangnya di Kecamatan Pujungan, Malinau, Kalimantan Timur, banyak dijumpai kuburan tempayan-dolmen yang merupakan peninggalan megalitik. Perkembangan terakhir, penguburan dengan menggunakan peti mati (lungun) yang ditempatkan di atas tiang atau dalam bangunan kecil dengan posisi ke arah matahari terbit.


Dalam masyarakat Dayak Ngaju mengenal tiga cara penguburan, yakni: dikubur dalam tanah, diletakkan di pohon besar dan dikremasi dalam upacara tiwah. Tiwah sendiri adalah prosesi penguburan sekunder pada penganut Kaharingan, sebagai simbol pelepasan arwah menuju lewu tatau (alam kelanggengan) yang dilaksanakan setahun atau beberapa tahun setelah penguburan pertama di dalam tanah. Ijambe adalah prosesi penguburan sekunder pada Dayak Maanyan. Belulang dibakar menjadi abu dan ditempatkan dalam satu wadah.

Sumber

Sponsored
Copyright 2011. All rights reserved.
artist photos